Oleh: Muhammad Husein Sanusi
MEMBACA buku tafsir Al- Mishbah karya seorang mufassir lokal Prof DR Qurais Shihab sama dengan membaca makna mishbah (dalam bahasa Arab) itu sendiri yang berarti lampu yang bisa memberi penerang.
Al-Mishbah seperti hadir dalam sebuah kegelapan di malam hari. Dia seperti memantulkan cahaya dari gemerlapnya cahaya yang memancar melalui lantunan ayat-ayat Ilahi yang penuh hikmah namun susah untuk ditangkap cahayanya.
Al-Mishbah menghadirkan harapan baru bagi pengagum kitab suci umat Islam yang sejatinya tidak diam, meskipun dia hanya berbentuk goresan tinta di setiap lembaran Al-Quran. Al- Mishbah hadir dengan sentuhan-sentuhan kalimat dari penafsirnya yang tidak diragukan lagi kredibilitas ke-Ilmuan Tafsirnya.
Seperti karya-karya monumental Qurais sebelum-sebelumnya, katakanlah buku Membumikan Al-Quran yang menjadi best seller, Qurais seperti tidak puas memuntahkan isi Al-Quran dalam buku tersebut. Hingga akhirnya beliau menulis tafsir edisi lengkap bernama Tafsir Al-Mishbah.
Sekilas, di dalam tafsir Al-Mishbah tersebut, Qurais tetap menampilkan gaya penulisannya melalui penjelasan yang diawali dengan pengertian kata per kata dalam bahasa Arab yang memang kaya akan arti dan makna.
Dari kekayaan arti dan makna tersebut, Qurais kemudian melangkah dengan mengidentifikasi makna dan arti dari kata tersebut dan menjelaskannya dalam pengertian yang lebih luas lagi. Sehingga hasilnya masalah apapun yang mengemuka secara kontekstual diurai dengan jelas dan gamblang.
Belum berhenti pembaca kagum dengan ulasan arti kata, pembaca kembali diajak untuk menelusuri horison pemahaman ayat Al-Quran dengan mencari ayat di surat lain yang menjelaskan obyek yang sama atau malah menampilkan ayat yang kontradiktif dengan pembahasan obyek.
Qurais juga tidak ketinggalan memberikan penjelasan ayat dengan komentar-komentar dari sang penerima wahyu Muhammad SAW melalui potongan-potongan hadisnya. Tidak lupa juga penjelasan dari sahabat, tabiin, dan tabiin al tabiin dan seterusnya.
Biasanya Qurais juga mengajak pembaca berdiskusi dengan kajian interteks dengan menampilkan kombinasi pengetahuan melalui disiplin ilmu diluar kajian tafsir seperti filsafat, ekonomi, politik, budaya, ekonomi dan sosial.
Qurais juga tidak membiarkan pembaca bingung dengan pengetahuan-pengetahuan yang luas tadi. Qurais juga segera menampilkan solusi dari obyek permasalahan tadi dengan menampilkan kesimpulan-kesimpulan yang bijak dan menyejukkan.
Hasilnya sungguh luar biasa, Al-Mishbah tampil di tengah-tengah merosotnya karya penggiat kajian tafsir di era modern ini. Al-Mishbah layak disejajarkan dengan karya tafsir sebelumnya yang juga dikarang ulama dan cendekiawan terkenal Indonesia, Buya Hamka.
* Jurnalis dan alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Jurusan Tafsir Hadist Universitas islam Negeri (UIN) Makassar
Kamis, 27 Maret 2008
Al-Misbah, Penerang dan Penyejuk
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar