
Suara ayat-ayat suci Al-Quran yang dibacakan qori santri Pondok Pesantren (Ponpes) 'Al-Hikmah' di Dusun Sumberejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terdengar mengalun memecah kesunyian malam.
Saat itu, ponpes yang berada di atas tanah seluas 1,3 hektar dan terletak sekitar 60 kilometer dari kota Yogyakarta tersebut, tengah mengadakan kegiatan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi Muhammad, berupa pengajian umum dan pentas seni Islami.
"Meskipun peringatan semacam ini selalu diperingati oleh umat Islam di Indonesia, dan tampak hanya kegiatan seremonial saja, namun tetap memiliki makna yang dalam yaitu untuk merenungi keteladan nabi Muhammad SAW," kata Pimpinan Ponpes 'Al-Hikmah' Karangmojo,Gunungki dul, Drs.KH Harun Al Rasyid.
Meskipun sebagian umat Islam menganggap bid'ah memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW karena tidak dilakukan oleh nabi maupun sahabat-sahabat nabi, namun kegiatan yang dinilai baik tersebut tetap memiliki makna untuk mensyiarkan agama Islam.
Peringatan kelahiran nabi saat ini tidak saja untuk mengingat perjuangan,keteladanan dan semangat nabi menegakkan agama Allah di muka bumi,juga sebagai kegiatan syiar dan dakwah agama Islam, khususnya di tengah carut-marutnya modernisasi dan globalisasi.
Karenanya, melalui peringatan Maulid meskipun banyak dilakukan dengan seremonial melalu pengajian, namun jika para penceramah mampu menyampaikan makna ajaran nabi maka akan lebih menyentuh dan mampu memberikan semangat untuk selalu hidup sesuai petunjuk Allah, katanya.
Dalam sejarahnya, Maulid Nabi atau hari kelahiran Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa.
Pada waktu itu umat Islam kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan.
Di saat seperti itu, muncullah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, seorang pemimpin Islam yang memerintah pada tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub, berusaha menghidupkan kembali semangat juang umat Islam dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka.
Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.
"Memperingati kelahiran Nabi Muhammad meski pada awalnya untuk menyemangati umat Islam, kini mestinya tidak hanya untuk mengingat kelahirannya saja tetapi untuk meneladani nabi dengan seluruh ajarannya," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DIY,Drs.KH.Thoha Abdurrahman.(Heru Jarot Cahyono/Antara)
Jumat, 21 Maret 2008
Meneladani Rasul Memperingati Maulid
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar