Keutamaan Perjanjian Hudhaibiyyah Atas Nabi SAW
Keutamaan Perjanjian Hudhaibiyyah
1. فتحنا = Yang dimaksud dengan Fath dalam ayat ini yaitu Hudhaibiyyah (nota kesepahaman perdamaian kaum muslimin dengan kaum musyrikin Quraisy), ALLAAH SWT menjanjikan kemenangan yang lebih besar lagi setelahnya yaitu Fathul Makkah, berkata Imam Az-Zuhri: Tidak ada kemenangan yang lebih besar dari tercapainya Shulhu (perdamaian) Hudhaibiyyah, dan kemenangan dalam ayat ini disebutkan dalam bentuk fi’il-madhi (menunjukkan wajib/pasti atasnya).
2. ليغفر لك = Bahwa jihadmu di Hudhaibiyyah tersebut wahai Muhammad SAW (yang di kemudian hari akan menyebabkan peristiwa Fathu Makkah) itu menyebabkan turunnya maghfirah dan pahala yang besar bagi kalian, ayat ini juga menjadi dalil bahwa jihad menjadi wasilah turunnya ampunan ALLAAH SWT[1]. Dan ada juga syawahid atas hadits ini[2].
3. ما تقدم وما تأخر = Secara balaghah ayat ini menunjukkan bahwa antara keduanya ada banyak tingkatan dosa-dosa manusia, yang keseluruhannya akan diampuni semuanya oleh ALLAAH SWT, ayat ini juga menjadi dalil adanya ke-ma’shum-an di kalangan para Nabi AS, yaitu pengampunan semua dosa baik besar maupun kecil. Dan penyebutan dosa Nabi SAW di sini sebagian mufassir menafsirkannya sebagai pahala para Al-Abrar dan kekurangan dari para muqarrabin (bukan sebagaimana dosa-dosa kita)[3] .
4. ويتم نعمته = Yaitu disempurnakan ni’mat-NYA, melalui pengampunan dosa-dosa-mu wahai Muhammad serta akan tingginya bendera Islam di bawah kakimu kelak, sehingga berkumpulnya dunia (kekuasaan politik) dan akhirat (ibadah mahdhah) pada dirimu (wahai Muhammad).
5. يهديك صراطا = Yaitu tegaknya kemenangan di atas jalan yang lurus, juga tegaknya agama ini (yaitu Dinul Islam), penyampaian risalah-NYA dan tegaknya semua syi’ar-syi’ar Islam tersebut. Imam Az-Zamakhsyari menyatakan bahwa jihad mendatangkan 4 manfaat: 1) Turunnya maghfirah, 2) Disempurnakan ni’mat ALLAAH SWT, 3) Diberi hidayah ke jalan yang lurus, 4) Pertolongan ALLAAH SWT dan kemenangan.
6. ينصرك الله = Yaitu pertolongan dan kemenangan yang tiada kekalahan lagi setelahnya dan kemuliaan yang tiada kehinaan lagi setelahnya, maka pribadi Nabi SAW disifati dengan kemenangan besar menunjukkan lil-mubalaghah (berlebihan). Yaitu tersebarnya Islam dan penaklukan bangsa-bangsa dari Timur sampai ke Barat yang belum pernah diberikan kepada Nabi AS yang manapun sebelumnya.
Kesimpulan:
Perjanjian Hudhaibiyyah ini menghasilkan banyak manfaat bagi kaum mu’minin:
1. Pengakuan dari kaum musyrikin atas eksistensi kaum muslimin dalam masalah politik dan hubungan internasional yang seimbang dan setara, saling menghormati dan menghargai hak dan kewajiban masing-masing.
2. Pemisahan kaum beriman dari orang-orang munafik, dari keraguan mereka yang terus-menerus dan penyelisihan mereka kepada kebijakan qiyadah tertinggi (yaitu Nabi SAW).
3. Perdamaian antara kaum muslimin dengan orang-orang musyrikin, yang dikemudian hari memberikan maslahat yang amat besaryaitu lebih dapat mengajak mereka kepada Al-Islam, menyusun kekuatan kaum muslimin sehingga pada akhirnya mampu mengalahkan kekuasaan politik mereka (kaum musyrik).
4. Ujian bagi kaum muslimin terkait ketaatan mereka kepada qiyadah dan ketsiqahan mereka kepada janji ALLAAH SWT dan kebenaran manhaj dakwah Nabi SAW.
5. Keutamaan Nabi SAW, pujian ALLAAH SWT kepada beliau dan tingginya derajat beliau SAW disisi ALLAAH SWT.
6. Tidak terpisahnya urusan agama dan politik, semuanya adalah urusan ALLAAH SWT, dan wajibnya orang beriman untuk memperhatikan dan mengikuti semuanya, sebagai tanda kebenaran dan totalitas keimanannya kepada manhaj RasuluLLAAH SAW.
7. Urutan tegaknya Daulah Islamiyyah, dimulai dengan pembinaan keimanan, lalu jihad, lalu siyasah (politik), yang memberikan hasil yaitu datangnya kemenangan yang hakiki yaitu ad-diin (keagamaan) dan ad-daulah (politik dan pemerintahan).
(Bersambung insya ALLAAH…)
___
Catatan Kaki:
[1] Bahkan diriwayatkan oleh Syaikhan, Ahmad, Tirmidzi, Al-Hakim dari Anas RA: Turun pada Nabi SAW ayat ini, maka beliau SAW bersabda: Sungguh turun suatu ayat untukku yang lebih kucintai dari dunia dan seisinya. Maka mereka berkata: Sungguh telah turun ayat yang menjelaskan tentang ni’mat ALLAAH SWT padamu, maka bagaimana kami ya RasuluLLAAH? Maka turunlah ayat: ليد خل المؤمنين والمؤمنات
[2] Berkata Ibnu Abbas RA: Saat turun ayat وما أدري ما يفعل بي ولا بكم, maka berkata orang-orang Yahudi: Bagaimana kita akan mengikuti laki-laki yang ia sendiri tidak mengetahui apa yang akan dilakukan ALLAAH pada dirinya?! Maka ALLAAH SWT menurunkan ayat ini.
[3] Ada hadits shahih riwayat Muslim dan Ahmad dari Aisyah RA: Adalah Nabi SAW jika shalat berdiri sampai pecah-pecah kakinya, maka berkatalah Aisyah RA: Wahai RasuluLLAAH! Masihkan anda berbuat begini padahal ALLAAH SWT sudah mengampuni semua dosa anda yang terdahulu maupun akan datang?! Jawab beliau SAW: Wahai Aisyah, tidakkah pantas aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?!
Jumat, 21 Maret 2008
Tafsir Surah Al-Fath (1)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar