Jumat, 21 Maret 2008

Tafsir Surah Al-Fath (III)

Langkah-Langkah Strategis Harakah-Islamiyyah Pada Masa Nabi SAW Menjelang Mihwar-Daulah

4. Sebelum Terjadinya Hudhaibiyah Nabi SAW Bersabda: Siap Menerima Rencana Orang-Orang Musyrik Apabila Masih ada Pengagungan ALLAAH SWT di dalamnya.

Ada sebagian orang yang menganggap strategi mengalah dan berkompromi dengan kaum musyrikin hanya terjadi saat Nabi SAW di Makkah saja dan telah di-mansukh saat Nabi SAW telah hijrah dan mulai memiliki sedikit kekuasaan di Madinah, hal ini tertolak oleh beberapa dalil, di antaranya sikap kompromistis Nabi SAW dengan kaum musyrikin Makkah di bawah ini, yang kemudian berakhir dengan terjadinya kompromi Hudhaibiyah yang juga merupakan fakta koalisi kaum muslimin dengan beberapa Kabilah Musyrikin[12], seperti Bani Najjar dan sebagainya, sebagai berikut:

Dari Mushawwir bin Makhramah dan Marwan berkata: Nabi SAW keluar saat Hudhaibiyah hingga sampai di suatu jalan beliau SAW bersabda: “Khalid bin Walid ada di Ghanim di barisan terdepan Quraisy, maka ambillah jalan kanan.” Maka demi ALLAAH Khalid tidak menyadari keberadaan mereka sampai mereka dikejutkan oleh debu hitam beterbangan dari pasukan Nabi SAW yang mengejar mata-mata Quraisy, sehingga sampai di jalan bukit, tiba-tiba Unta beliau SAW itu menderum (mogok), maka orang-orang pun berkata: Hall..!! Hall..!! (bunyi yang diucapkan orang Arab jika Unta tidak mau berjalan –pen), lalu mereka berkata: Qaswa (nama Unta Nabi SAW –pen) menderum (mogok)! Maka Nabi SAW bersabda: “Qaswa tidak menderum dan itu bukan kebiasaannya, tetapi ada yang menahannya disini yaitu Dzat yang menahan Gajah Abrahah dari Rumah itu (baituLLAAH). DEMI ALLAAH! TIDAKLAH MEREKA MEMINTA SEBUAH RENCANA KEPADAKU YANG MANA MASIH MENGAGUNGKAN HAK ALLAAH PADANYA KECUALI PASTI AKAN AKU BERIKAN KEPADA MEREKA.” Lalu Nabi SAW menyentak Untanya dan Qaswa langsung bangkit[13].

5. Menggunakan Cara dan Sarana Sesuai dengan Orang/Kelompok yang Dihadapi

Nabi SAW tidak bersikap kaku dalam melakukan lobi-lobi dan teknik berdiplomasi dengan lawan politiknya yaitu kaum kuffar Quraisy, melainkan beliau SAW menggunakan berbagai sarana dan cara yang sesuai dengan tokoh yang akan dihadapinya (apakah latar-belakangnya tentara, informal leader, pengusaha, dan sebagainya) dengan tujuan mengoptimalkan diplomasi politik yang dilakukannya dengan kaum musyrikin tersebut, dalilnya sebagai berikut [14]:

Saat Nabi SAW di Hudhaibiyah Quraisy mengirim Urwah bin Mas’ud untuk berdiplomasi dengan Nabi SAW, dan tiap kali ia berbicara dengan Nabi SAW, tangannya berusaha memegang janggut Nabi SAW, namun tiap kali itu pula Mughirah bin Syu’bah RA memukul tangan tersebut dengan gagang pedang sambil berkata: Jauhkan tanganmu dari wajah RasuluLLAAH SAW! Demikianlah terjadi berkali-kali, maka Urwahpun mulai memperhatikan semua sahabat Nabi SAW dan berkata: Demi ALLAAH! Tidaklah ia berdahak kecuali selalu jatuh pada telapak tangan seseorang dari mereka dan mereka menggosokkannya ke wajah atau kulitnya, apabila ia memerintah mereka segera berlari mengerjakannya dan jika berwudhu maka seolah-olah mereka hampir berbunuhan mendapat sisa wudhu’nya, jika ia berbicara mereka semua diam mendengarkan dan mereka tidak berani lama memandang kepadanya. Maka iapun pulang dan berkata pada kaumnya: Hai kaumku! Demi ALLAAH aku telah menjadi duta bagi para Raja, Kaisar, Kisra dan Najasyi, tapi demi ALLAAH! Aku belum pernah melihat seorang Rajapun yang dimuliakan oleh para pengikutnya seperti sahabat Muhammad kepadanya. Dan sungguh ia telah menawarkan pada kalian usul yang baik maka terimalah![15]

Maka seorang dari Bani Kinanah berangkat untuk menggantikannya berdiplomasi, maka Nabi SAW bersabda: “Ia adalah si Fulan, dan ia adalah orang yang sangat menghormati Unta untuk Kurban, maka giringlah unta-unta kita ke hadapannya.” Lalu saat ia datang para sahabat menyambutnya sambil menggiring unta-unta mereka sambil ber-talbiyyah, melihat itu orang tersebut langsung kembali sambil berkata ke pasukannya: SubhanaLLAAH! Tidak sepantasnya mereka dilarang memasuki BaituLLAAH! Aku melihat unta-unta telah ditandai dan diberi nama (untuk Qurban), karena itu menurutku mereka tidak boleh dilarang masuk Ka’bah[16]!

6. Digantinya Penulisan Basmalah Menurut Al-Qur’an dan Penyebutan Rasulullah dengan Penulisan Menurut Tradisi Musyrikin

Klimaks dari sikap kompromi Nabi SAW dalam diplomasi dengan kaum musyrikin tersebut, adalah kesediaan beliau SAW mengorbankan beberapa masalah yang mungkin oleh sebagian orang dianggap prinsip dan bahkan merupakan masalah ‘aqidiyyah, seperti penggantian kata ‘BismiLLAAHir Rahmaanir Rahiim’ dengan bismiLLAAH versi mereka yaitu ‘BismikaLLAAHumma’ dan kalimat ‘Muhammad RasuluLLAAH’ dengan penolakan mereka terhadap kerasulan Nabi SAW sehingga menjadi hanya ‘Muhammad bin AbduLLAAH’ saja, namun Nabi SAW tetap menerima perjanjian tersebut, sebagai berikut[17]:

Ma’mar berkata: Az-Zuhry berkata dalam sebuah hadits: Maka Suhail bin Amr datang lalu berkata: Berikan kertas tulislah antara kami dan kalian sebuah perjanjian. Maka Nabi SAW memanggil penulis, lalu bersabda: “Tulislah BismiLLAAHir Rahmanir Rahim..” Suhail menyela: Adapun Ar-Rahman maka demi ALLAAH aku tidak mengetahuinya! Maka tulis saja: BismikaLLAAHumma, sebagaimana kami menulis! Maka Nabi SAW bersabda: “Tulislah bismikaLLAAHumma. Ini yang diputuskan oleh Muhammad RasuluLLAAH..” Maka Suhail menyela lagi: Demi ALLAAH! Kalau sekiranya kami tahu engkau adalah RasuluLLAAH, maka kami tidak akan menghalangimu ke baituLLAAH dan tidak memerangimu! Maka tulis saja Muhammad bin AbdiLLAAH. Maka nabi SAW bersabda: “Demi ALLAAH, sesungguhnya aku ini adalah RasuluLLAAH sekalipun kalian mendustakanku, baiklah tulislah Muhammad bin AbdiLLAAH..” Maka Az-Zuhry berkata: Semua itu disebabkan sabdanya sebelumnya: DEMI ALLAAH! TIDAKLAH MEREKA MEMINTA SEBUAH RENCANA KEPADAKU YANG MANA MASIH MENGAGUNGKAN HAK ALLAAH PADANYA KECUALI PASTI AKAN AKU BERIKAN KEPADA MEREKA.

7. Dikorbankannya Sebagian Hak Kaum Muslimin Demi Maslahat yang Lebih Besar Bagi Jama’ah Di Kemudian Hari

Bahkan konsekuensi dari kompromi yang dilakukan oleh Nabi SAW dengan musyrikin Quraisy adalah terhapusnya hak pada sebagian kaum muslimin, demi maslahat yang jauh lebih besar di kemudian hari, yang mungkin bagi sebagian orang yang berfikir pendek maslahat tersebut dianggap hanya bersifat spekulatif, tidak pasti, dan mengorbankan hal yang sudah qath’iy dalam ahkam-syariah, sebagai berikut[18]:

Setelah ditulisnya nota-kesepahaman tersebut bersabda nabi SAW: “Hendaklah kalian membiarkan kami ke baituLLAAH sehingga kami bisa Thawaf padanya?” Maka Suhail menjawab: Demi ALLAAH! Janganlah sampai orang-orang Arab mengatakan kami mendapat tekanan, tetapi datanglah tahun depan saja. Maka ditulislah hal tersebut. Suhail lalu menambahkan: Dan hendaklah tidak ada yang datang dari kami kepadamu, sekalipun ia dalam agamamu melainkan harus engkau kembalikan pada kami! Maka kaum muslimin berseru: SUBHANALLAAH! BAGAIMANA MUNGKIN MEREKA DIKEMBALIKAN PADA ORANG MUSYRIK PADAHAL MEREKA DATANG SEBAGAI MUSLIM?! Pada saat itu masuklah Abu Jandal (anaknya Suhail) melompat-lompat dalam keadaan dirantai. Ia telah keluar hijrah dari Makkah, maka ia menghempaskan dirinya di hadapan kaum muslimin. Lalu Suhail berkata: Ya Muhammad! Ini adalah yang pertama aku tuntut darimu supaya dikembalikan pada kami. Abu Jandal berkata: Duhai segenap kaum muslimin! Apakah aku akan dikembalikan lagi kepada kaum musyrik, padahal aku telah datang dalam keadaan muslim?! Tidakkah kalian perhatikan apa yang aku dapatkan dari penyiksaan mereka. Dan ia telah disiksa dengan penyiksaan yang berat di jalan ALLAAH SWT.

8. Dampak Shulhu-Hudhaibiyah Terhadap Ke-Tsiqah-an di Kalangan A’dha Bahkan di Kalangan Sebagian Qiyadah

Langkah-langkah yang ditempuh oleh qiyadah yaitu nabi SAW saat itu dianggap sangat kontroversial oleh kaum muslimin, bahkan oleh sebagian qiyadahnya yang selevel Umar bin Khattab RA, sehingga ia tidak bisa menerima sikap qiyadah-‘ulya dan bertanya kepada qiyadah yang lain yaitu Ash-Shiddiq RA, dan Ash-Shiddiq-lah yang menegur Umar RA agar tetap memegang teguh ra’yul qiyadah ‘ulya yaitu Nabi SAW, sebagai berikut:

Sahl bin Hanif berkata: Tuduhlah diri-diri kalian sungguh aku telah melihat kami pada perjanjian Hudhaibiyah (perjanjian antara Nabi SAW dengan Kaum Musyrikin), sekiranya kami melihat akan ada pertempuran pasti kami akan berperang. Maka Umar RA datang dan berkata: Bukankah kita berada dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan? Jawab Nabi SAW: Benar. Tanya Umar RA: Bukankah korban-korban dari kita masuk ke Jannah dan korban-korban dari mereka masuk ke Naar? Jawab beliau SAW: Benar. Lalu kata Umar RA: lalu mengapa kita memberikan kehinaan pada agama kita (dengan berdamai dengan mereka) sehingga kita pulang padahal ALLAAH belum memberikan keputusan? Jawab Nabi SAW: Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya aku adalah RasuluLLAAH dan DIA tidak akan pernah menyia-nyiakan aku selamanya. Lalu Umar RA pun kembali dalam keadaan kesal, dan ia tidak bisa bersabar sehingga ia pergi menemui Abubakar RA seraya berkata: Wahai Abubakar, bukankah kita berada dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan? Jawab Abubakar RA: Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya beliau adalah utusan ALLAAH dan ALLAAH tidak akan menyia-nyiakan beliau selamanya. Lalu turunlah surat ini[19].

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dengan tambahan: lalu turunlah ayat Al-Qur’an (Al-Fath) kepada Nabi SAW, lalu beliau SAW mengutus orang kepada Umar RA dan membacakan kepadanya, lalu Umar RA berkata: Wahai RasuluLLAAH, apakah itu berarti kemenangan? Jawab beliau SAW: Ya. Maka Umar RA menjadi tenang[20].

Peristiwa perdamaian dengan kaum musyrikin dan mengalahnya kaum mu’minin dalam banyak point-point perjanjian ini, apalagi juga dengan gagalnya umrah mereka ini demikian mengguncangkan, sehingga sampai saat Nabi SAW memerintahkan untuk melakukan tahallul (mencukur rambut ba’da Thawaf dan Sa’i) sampai 3 kali mereka diam dan tidak segera melaksanakannya, sehingga Nabi SAW meminta pendapat istrinya Ummu Salamah yang menasihati beliau SAW agar memulai menyembelih dan bercukur, sehingga mereka semua mengikuti beliau SAW[21].

(Bersambung Insya ALLAAH…)

Tidak ada komentar: