Langkah-Langkah Strategis Harakah-Islamiyyah Pada Masa Nabi SAW Menjelang Mihwar-Daulah
9. Munculnya Kelompok yang Berbeda Ijtihad
Hal lainnya yang merupakan pelajaran dari peristiwa Hudhaibiyah adalah munculnya kelompok kaum muslimin yang tidak siap dengan kebijakan operasional mainstream harakah Islamiyyah, kemudian mereka membentuk kelompok sendiri (sempalan), namun mereka masih loyal dengan qiyadah-’ulya yaitu Nabi SAW, perbedaan yang terjadi hanya karena tekanan kondisi yang mereka alami belaka, sebagai berikut[24]:
Maka ia (perawi) berkata: Abu Jandal bin Suhail kemudian lepas dari para penawannya, lalu ia bertemu dengan Abu Bashir (tokoh muslim lainnya yang ditawan oleh Quraisy dan juga meloloskan diri –pen), maka tidaklah orang Quraisy yang masuk Islam dan melarikan diri kecuali menemui Abu Bashir hingga terbentuklah sebuah kelompok besar (sekitar 70 orang[25]). Maka demi ALLAAH, tidaklah mereka mendengar adanya kafilah Quraisy yang keluar ke Syam kecuali mereka hadang dan dibunuhnya lalu diambil hartanya. Maka orang-orang Quraisy menyurati Nabi SAW dan bersumpah dengan nama ALLAAH dan menyambung silaturrahim yang isinya agar orang-orang Quraisy yang datang kepadanya dijamin keamanannya dan memasukkan Abu Bashir dan teman-teman-nya kembali ke Madinah[26].
10. Salah Satu Point Perjanjian Hudhaibiyah Adalah Ditandatanganinya Pakta Perdamaian dengan Kelompok Musyrikin Penentang, Serta Dicapainya Pakta-Koalisi dengan Musyrikin yang Netral
Salah satu hasil yang fenomenal dari peristiwa Hudhaibiyah adalah terjadinya pakta kesefahaman (MOU) antara harakah Islamiyyah di masa tersebut dengan kelompok dua kelompok non-muslim yang berbeda secara diametral, yang pertama adalah pakta perdamaian antara harakah Islamiyyah dengan kelompok penentang yaitu kafir Quraisy dan yang kedua adalah dengan pakta koalisi dengan kelompok musyrikin yang netral, di antaranya dengan Bani Khuza’ah, sebagai berikut:
Di antara nota kesepahaman tersebut adalah menghentikan peperangan selama 10 tahun, selama masa itu tidak boleh ada peperangan, lalu siapapun orang Quraisy yang menyeberang kepada Nabi SAW tanpa seizin walinya harus dikembalikan pada Quraisy, sebaliknya jika ada pihak muslimin yang menyeberang ke Quraisy maka tidak akan dikembalikan, kedua pihak tidak boleh menyembunyikan niat jahat[27], tidak boleh melakukan pencurian dan tidak boleh berkhianat[28]. Siapapun yang mau berkoalisi pada pihak Muhammad SAW dipersilakan, dan siapapun yang mau berkoalisi dengan pihak Quraisy juga dipersilakan, maka Bani Khuza’ah berkoalisi dengan Nabi SAW sementara Bani Bakr berkoalisi dengan Quraisy[29]. Tahun itu Nabi SAW tidak boleh umrah dan memasuki Makkah, melainkan baru dibolehkan pada tahun depannya, tapi tidak boleh membawa senjata dan tidak boleh lebih dari 3 hari saja[30].
11. Globalisasi Islam ke Seluruh Penjuru Dunia
Hal lainnya yang merupakan perkembangan harakah Islamiyyah adalah dimulainya komunikasi Harakah Islamiyyah dengan berbagai negara di dunia, yang dicirikan dengan dikirimnya para delegasi harakah ke berbagai negara untuk melakukan diplomasi dan penyampaian missi Islam, dan hendaklah diingat bahwa ini semua dilakukan oleh harakah Islam saat sebelum terjadinya Fathu Makkah, yaitu sebagai berikut[31]:
Pengiriman delegasi yaitu Amr bin Umayyah Adh-Dhamri RA ke Najasyi raja Habasyah, pada akhir tahun ke-6 Hijrah atau dalam riwayat lain di bulan Muharram tahun ke-7 Hijrah. Pengiriman Hathib bin Abi Baltha’ah RA ke Juraij bin Matta yang bergelar Muqauqis Raja Iskandaria Mesir. Pengiriman AbduLLAAH bin Hudzafah As-Sahmi RA ke Kisra’ Raja Persia, pada tahun ke-6 atau ke-7 Hijrah. Pengiriman Dhihyah bin Khulaifah Al-Kalby RA ke Kaisar (Hiraclius) Raja Byzantium Romawi Timur. Pengiriman Al-A’la bin Hadhrami RA ke Mundzir bin Sawa’ Raja Bahrain. Pengiriman Salith bin Amr Al-Amiri RA ke Haudzah bin Ali Raja Yamamah. Pengiriman Syuja’ bin Wahb Al-Khuzaimah RA ke Al-Harits bin Abi Syammar Al-Ghassani Raja Damsyik. Dan pengiriman Amr bin ‘Ash ke Jaifar dan Abd Al-Jalandi penguasa Omman.
12. Terjadinya Kemenangan Besar Harakah Islamiyyah Yaitu Fathu-Makkah
Hal terakhir setelah pakta perdamaian dan koalisi tersebut adalah memberikan kesempatan kepada harakah Islamiyyah untuk menyebarkan dakwah, melakukan konsolidasi internal, menarik simpati publik, menyibakkan citra tidak baik yang disematkan oleh para musuh, membangun harmoni dengan berbagai lapisan masyarakat, membuka diplomasi dengan berbagai negara, sehingga pada akhirnya mampu eksis mengalahkan penindasan, korupsi, kesewenang-kesewenangan, kediktatoran, kemiskinan, kebejatan moral, untuk memimpin dunia di dalam kedamaian dan kasih-sayang Islam.
Bahkan kepada para musuhpun sang pemimpin tertinggi harakah yaitu Nabi SAW bersabda: Kami akan bersabar dan kami tidak akan menghukum kalian[32].. Atau juga sebagaimana sabdanya: Makkah adalah tanah haram, tidak boleh lagi terjadi peperangan setelah itu[33].. Atau juga sabdanya: Setelah penaklukan Makkah tidak boleh lagi ada seorang Quraisy yang dibunuh sampai Hari Kiamat[34]..
Dan perlu dicamkan bahwa peristiwa Fathu Makkah yang luar biasa besar ini terjadi karena Nabi SAW membela mitra koalisinya yaitu Bani Khuza’ah (yang musyrik) yang telah dizhalimi oleh Bani Bakr (salah satu mitra koalisi kafir Quraisy)[35], kejadian selengkapnya saat detik-detik bersejarah penaklukan makkah tersebut adalah sebagai berikut:
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA: Sesungguhnya Nabi SAW keluar pada bulan Ramadhan dari Madinah bersama 10.000 pasukannya, kejadian tersebut terjadi 8,5 tahun dari kedatangannya ke Madinah[36]. Dalam hadits lainnya disebutkan: Saat pasukan kaum muslimin bergerak maka Nabi SAW memerintahkan Al-Abbas RA agar mengajak Abu Sufyan melihat di tempat lewatnya para pasukan (untuk melihat betapa besar kekuatan harakah Islamiyyah saat itu –pen), tiba-tiba lewatlah suatu kelompok besar maka tanya Abu Sufyan: Wahai Abbas, siapakah mereka ini? Jawab Abbas: Ini adalah kabilah Bani Ghiffar. Maka jawab Abu Sufyan: Apa masalahku dengan Bani Ghiffar? Lalu lewatlah pasukan besar yang lain, ia bertanya lagi: Wahai Abbas siapakah mereka ini? Jawab Abbas: Ini adalah kabilah Juhainah. Demikianlah lewat pula Bani Sa’d bin Hudzaim, sampai lewatlah suatu pasukan yang demikian menakjubkannya, kata Abu Sufyan: Lalu siapakah mereka ini? Jawab Abbas: Ini adalah kaum Anshar yang dipimpin oleh Sa’d bin Ubadah, lihatlah benderanya. Lalu lewatlah suatu kelompok yang paling mengesankan, namun paling sedikit jumlahnya diantara mereka nampak RasuluLLAAH SAW bersama para shahabatnya, bendera Nabi SAW dipegang oleh Az-Zubair bin Awwam RA[37].
Berkata Abubakar Ash-Shiddiq RA: Tidak ada satupun kemenangan dalam Islam yang lebih besar dari kemenangan Hudhaibiyah, akan tetapi manusia waktu itu berfikir singkat hingga tidak mengetahui rencana Muhammad SAW dengan RABB-nya, orang terlalu tergesa-gesa sedangkan ALLAAH SWT tidak pernah tergesa-gesa, hingga segala sesuatu mencapai targetnya[38].
Komentar Imam Az-Zuhri: Tidak pernah ada kemenangan dalam Islam melebihi kemenangan dalam pakta Hudhaibiyah, karena peperangan hanya akan menyebabkan pergesekan antara manusia, akan tetapi setelah terjadinya pakta kesefahaman, maka perang pun mereda dan manusia merasa aman terhadap sesamanya, lalu mereka bisa berunding dan bertemu, maka tidak seorang pun yang mengerti suatu pembicaraan, lalu ia diajak berdiskusi tentang Islam kecuali ia pun masuk kedalamnya, sesungguhnya hanya dalam 2 tahun itu, sejumlah besar orang telah masuk Islam sebanyak jumlah seluruh orang Islam sebelumnya, atau bahkan lebih banyak lagi.[39]
Selesai Bi-IdzniLLAAH, faliLLAAHil hamdu wal minah…
Jumat, 21 Maret 2008
Tafsir Surah Al-Fath (IV-Habis)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar